10 August 2006

Melihat Globalisasi dari Tepi Lapangan Bola

Judul Buku : MEMAHAMI DUNIA LEWAT SEPAK BOLA
Kajian Tak Lazim tentang Sosial-Politik Globalisasi
Penulis : Franklin Foer
Penerjemah : Alfinto Wahhab
Penerbit : Marjin Kiri
Jumlah Hal. : xii + 248 hal.
Tahun Terbit: Juni, 2006
ISBN : 979-99980-6-9


Franklin Foer, redaktur senior The New Republic, mengambil cuti delapan bulan dan menyambangi satu-persatu kantung sepak bola dunia. Hasilnya sebuah buku yang nyaman dibaca dan menambah deras pemasukan pengetahuan bagi kepala pembacanya.



TULISAN-tulisan itu melulu tentang sepak bola. Benar-benar tak jauh-jauh dari situ: profil kesebelasan, kelompok pendukung, arsitektur stadion, manajemen, pemain, pelatih, dan tetek-bengek sepak bola lainnya. Tapi kemudian tulisan-tulisan itu bisa menjadi pengantar “kajian tak lazim tentang sosial-politik globalisasi”. Tulisan-tulisan ini sekelas tulisan The New Republic, tempat Franklin Foer, penulis buku ini bekerja. The New Republic adalah majalah papan atas di Amerika Serikat yang terbit sejak tahun 1914 dan berkantor di pusat pemerintahan AS, Washington. “Ada 16.800 majalah di negara ini,” kata Stephen Glass dalam Shattered Glass, sebuah film tentang dirinya, penulis muda yang pernah bekerja di The New Republic. “Tapi hanya satu yang memanggil dirinya majalah Air Force One. Dan itulah ketegangan bekerja di The New Republic. Kau dibayar kurang, jam kerja brutal. Tetapi apa yang kau tulis dibaca orang-orang yang berpengaruh: presiden, pembuat undang-undang!”

Franklin Foer mengajukan cuti delapan bulan dari pekerjaaannya demi gagasan yang ia akui sendiri pada awalnya mungkin akan ditertawakan agennya. Alih-alih menertawakan, agennya malah menanggapi gagasan Foer ini secara serius.

Gagasannya sederhana saja. Gagasan ini pula yang membuat mengapa buku ini dapat menjadi referensi tambahan tentang sosial-politik globalisasi. Franklin Foer melihat di balik segala macam centang-perenangnya globalisasi, juga segala silang sengkarut reaksi atas kehadirannya, globalisasi nyata-nyata telah membawa dunia ke dalam satu kondisi: integrasi antara pasar, negara-bangsa, dan teknologi yang semakin tak bisa ditawar lagi. Tentu saja di sini Foer mengutip Thomas Friedman, pewarta agung tata dunia baru ini. Tapi Foer jauh lebih spesifik lagi, “Di lapangan pun Anda bisa menyaksikan globalisasi.”

Dan memang demikianlah kenyataannya.

Foer menggambarkan bagaimana batas dan identitas nasional seolah-olah lenyap begitu saja ditendang ke dalam keranjang sampah sejarah sepak bola. Apakah segala haru-biru Piala Dunia yang terjadi nun di Jerman sana pada saat ini adalah bukan bagian dari pesta kita yang ada di sini, Indonesia? Sekalipun kesebelasan Indonesia tak turun ke lapangan hijau di Jerman, rasa-rasanya apa yang terjadi di sana adalah pesta kita juga. Dan tampaknya dalam hal ini Foer benar, “Sepak bola tampaknya jauh lebih akur dengan proses globalisasi ketimbang perekonomian manapun di muka bumi.” (hal ix).

FOER menyambangi satu-persatu kantung-kantung sepak bola dunia itu. Dan dengan apik ia mengangkat sisi-sisi dunia sepak bola yang sejauh ini terlalu sering dilupakan para pewarta olah raga.

Ia, misalnya, mampu mengangkat lagi sebuah hasil penelitian antropologi milik Ivan Colovic yang memaparkan perihal hubungan hooligan Serbia dengan Perang Balkan, tentang bagaimana klub-klub pendukung kesebelasan sepak bola pada masa-masa itu berubah secara sempurna menjadi media rekruitmen pasukan perang dan stadion-stadion berubah menjadi ajang kampanye nasionalisme. Arkan, seorang gangster kriminal yang belakangan menjadi kaki tangan militer, adalah fanatikus Red Star, kesebelasan sepak bola Serbia. Pada masa perang Balkan itu, dia bahkan menjadi sosok yang begitu mitis dan legendaris, tokoh yang akan dikenang orang sebagai “pahlawan”. Dan dia adalah seorang hooligan sejati, yang membuatnya memiliki posisi istimewa bagi Slobodan Milosevic. Masyarakat tersentak melihat foto-foto yang berbicara banyak soal hooligan dan perang Balkan ini. Salah satu foto yang ada menunjukkan pose Arkan mencium presiden Republik Serbia Bosnia sementara ia berdiri di atas mayat seorang warga Muslim.

Franklin Foer, di bagian awal buku ini, begitu cermat bercerita soal fenomena hooliganisme dalam dunia sepak bola. Dan dengan jelas ia menolak hipotesa para pendukung teori yang mengatakan bahwa semakin maju struktur perekonomian, berarti semakin maju pula suatu sistem kemasyarakatan (politik, sosial, budaya) yang akan menyebabkan watak masyarakat itu menjadi lebih liberal, toleran, dan demokratis. Dan itu juga sekaligus membantah barisan para sosiolog yang mengatakan bahwa fenomena hooliganisme (“aib bagi masyarakat beradab”, kata Margareth Thatcher), adalah soal “pria-pria tertekan, yang mata pencahariannya di industri telah dialihkan ke buruh-buruh Dunia Ketiga.” (hal.9).

Glasgow contohnya. Kota ini menjadi tempat dibesarkannya banyak tokoh pencerahan Skotlandia, termasuk Adam Smith. Di kota ini, kata Foer, “Anda bisa merasa tengah berdiri di suatu simpang peradaban tempat sejarah sudah berakhir, sebagaimana dibayangkan oleh teoretikus politik Francis Fukuyama.” (hal.33). Ya, tentu saja kapitalisme lah pemenangnya. Tapi di Glasgow pula Anda bisa melihat seorang anak bernyanyi teriak-teriak, “Lutut kami berkubang darah orang Feni”, sementara di sampingnya berdiri pula ayahnya yang turut bernyanyi. Itu lagu tentang pembantaian yang sering dinyanyikan para pendukung Glasgow Rangers kepada para pendukung Glasgow Celtics.

Globalisasi yang dipaparkan Foer dalam bukunya ini memang berkisar di permasalahan kultural, dan bukannya struktur ekonomi. Tapi justru demikianlah yang menjadikan buku ini menarik. Foer menunjukkan bagaimana globalisasi memang telah berhasil menghanguskan pranata-pranata lokal lewat merk-merk global semacam Nike dan Adidas, tapi justru tak berhasil menghanguskan budaya sepak bola lokal dan pernak-perniknya semacam tawuran dan korupsi. Sebaliknya Foer curiga bahwa globalisasi justru memperkuat entitas-entitas lokal ini (korupsi dan tawuran pendukung sepak bola).

Buku ini berjalan dengan alur yang bermula dari kisah suram persepakbolaan (hooliganisme, komodifikasi agama dan nasionalisme, rasisme, sampai korupsi) dan kemudian beralih ke titik cerah nasionalisme yang menawan seperti yang terjadi di kesebelasan FC Barcelona (Barca). Nasionalisme yang mencerahkan di mana tak ada pertarungan fisik antarpendukung. Di bab akhir, dengan nada optimistik, Franklin Foer bercerita soal sepak bola dan perang budaya di Amerika. Di sini bahkan ia dengan leluasa mengecam para eksekutif muda yang menggemari sepak bola seperti mereka menggemari seiris kue keju impor, yakni mereka yang berasal dari pemukiman yang “rasio starbucks per kapitanya amatlah tinggi, sehingga tak sejalan sama sekali dengan gelora jiwa kelas buruh.” (hal.239).

Meski Foer mengaku turut pula memerangi globalisasi yang memang tampak tak beres ini, ia juga berkata, “Ujung-ujungnya, saya merasa sulit untuk memusuhi globalisasi. Dengan semua kekurangannya, globalisasi telah menghadirkan sepak bola ke pelosok dunia yang paling jauh. Serta ke dalam hidup saya sendiri.” (hal.xii).

Selain itu semua, yang patut diacungi jempol adalah hasil terjemahan buku ini. Tak mudah menerjemahkan sebuah karya tulis yang bagus, terlebih jika itu berbentuk semacam jurnalisme sastrawi. Dan penerjemah buku ini mampu menerjemahkan buku ini dengan apik dan nyaman dibaca. Tanpa sungkan, dan ini sama sekali tak mengaburkan maksud penulis sesungguhnya, penerjemah berani memakai kata-kata yang khas Indonesia semacam bonek atau siskamling.

Cinta itu… Subversif!

Judul : Perang
Penulis : Rama Wirawan
Penerbit : Jalasutra
Tahun Terbit : 2005
Jumlah hal. : xxiii + 176 hal. (12 x 19 cm)
ISBN : 979-3684-44-5



“Marilah bermimpi dan jangan terbangun. Ayo lihat, apakah kita butuh dunia ini atau dunia yang selama ini butuh kita untuk bisa berputar? Kita lihat, siapa yang akan lebih dulu menyerah kalah.”
(hal. 134)

Namanya Perang. Perang Hayat. Ibunya memanggil dengan sebutan ‘Hayat’, sementara ayahnya (entah mengapa) memanggil dengan sebutan ‘Perang’. Teman-temannya juga memanggilnya dengan sebutan ‘Perang’.

Usianya masih muda, 22 tahun. Dia baru saja diwisuda dari bangku kuliah. Empat bulan menganggur dan kemudian bekerja di perusahaan printing. Lalu gelisah, terasing, mencari, menemu, dan membuat ‘Manifesto Perang Terakhir’.

Ini sebuah novel pendek. Jika mau, bisa dilahap sekali baca. Sambil menunggu pergantian mata kuliah atau perjalanan ke rumah pacar. Penulisnya juga penulis muda, Rama Wirawan. Juli nanti usianya menginjak 24 tahun. Dan ini bukan novel pertamanya. Saat masih menjadi siswa SMP dulu, ia pernah membuat Solat, novel humor yang beredar di antara teman-teman sekelasnya.

Sebuah novel, tentu saja, bisa dan boleh bermaksud apapun. Seperti tertulis dalam avant-propos penerbit novel ini. Ia bisa memiliki sebuah misi khusus, sebagai sebuah pernyataan sikap (politik) dari si penulis novel. Atau ia juga bisa tak bermaksud apapun, kecuali sekadar mengisahkan sesuatu atau menengahkan suatu cerita belaka. Sebagian lain, mungkin merupakan sebuah ekspresi berkesenian, pencapaian serangkaian eksperimen bercerita. Yang jelas, sebuah novel adalah sebuah kisah.

Di sampul depan novel ini, di bawah kata ‘Perang’ yang berwarna pink, ada tertulis ‘Sebuah Novel Subkultur’. Sebagian dari kita mungkin akan bertanya apakah maksud dari frasa ‘novel subkultur’. Apakah ia sebuah novel yang nyeleneh jika dibandingkan dengan novel-novel kebanyakan, sebuah novel yang hendak melawan mainstream kultur (baik dalam bentuk, isi, dan penyebarannya)? Ataukah ia sebuah novel yang berkisah tentang kehidupan mereka yang (merasa) hidup di area yang disebut ‘subkultur’? Novel Subkultur, tidakkah itu kosakata baru buat kebanyakan kita?

Novel ini dibuka dengan perkenalan singkat tokoh cerita. Sejak halaman pertama hingga halaman terakhir, kita akan senantiasa berkutat dengan tokoh ini. Tokoh-tokoh lain yang dimunculkan dalam novel ini hanya muncul sekilas-sekilas. Bahkan kadang tokoh-tokoh itu terasa cuma sekadar tempelan demi lancarnya jalan cerita si tokoh. Jika saja kita mau memberi perhatian pada hal ini, bisalah kita menyimpulkan, bahwa bentuk dari novel ini rasa-rasanya tidak terkesan nyeleneh.

Yang barangkali bisa disebut agak nyeleneh adalah kutipan-kutipan atau gagasan-gagasan para pemikir dunia yang bertebaran di novel ini. Kita bisa membaca kalimat-kalimat atau gagasan-gagasan milik Jean-Paul Sartre, Albert Camus, Pierre-Joseph Proudhon, Karl Marx, Dom Helder Camara, Adam Smith, hingga John Maynard Keynes. Semuanya tersedia, termasuk penjelasan-penjelasan tentang apa itu ‘kelas’, DIY (Do It Your Self!), gig, anarki, globalisasi, liberalisme, sampai neoliberalisme.

Penjabaran hal-hal di atas muncul lewat mulut para tokoh yang hadir di sekitar Perang. Seperti ketika hendak menjelaskan apa itu globalisasi. Diciptakan sebuah adegan diskusi di sebuah taman kota. Deni, salah satu tokoh novel ini, menjelaskan globalisasi secara panjang lebar dan tampil layaknya seorang guru di hadapan Perang yang berposisi selayaknya anak kecil yang punya rasa keingintahuan yang menggebu. Deni menjelaskan, “Begini. Globalisasi adalah tatanan dunia global, terutama perekonomiannya. Bukan berarti langsung mata uangnya jadi satu, tapi pelaksanaan ekonominya diserahkan pada pasar. Artinya….” (hal.63) Dan seterusnya, dan seterusnya.

Dengan cara yang nyaris sama, Dodo, tokoh pengelola distro dalam novel ini juga menjelaskan apa itu neoliberalisme. “Lalu? Ceritakan tentang neolib itu,” kata Perang. Dodo pun menjelaskannya dengan fasih, “Neoliberalisme sebetulnya bentuk baru atau neo dari liberalisme. Liberalisme sendiri bisa mengacu pada politik, ekonomi, bahkan religi. Di Amerika Serikat, liberalisme politik menjadi sebuah strategi untuk mencegah konflik sosial….” Perang lalu bertanya lagi, “Lalu liberalisme ekonomi itu apa?” Dodo menguraikan lagi, “Ini dimulai saat seorang ekonom Inggris bernama Adam Smith menerbitkan buku The Wealth of Nations. Dia dan para pengikutnya mengeluarkan ide untuk menghapus campur tangan pemerintah dalam urusan ekonomi. Artinya….” (hal.122)

Ya, membaca novel ini kita akan menjadi tahu banyak gagasan-gagasan yang biasa tampil di buku-buku teks kuliah. Hal ini mungkin mengingatkan kita pada Supernova Episode Akar, novel karangan Dee, lewat tokoh Bong. Atau surat-surat yang didapati Sophie Amundsend yang berisi konsep-konsep (dan sejarah) filsafat mulai pra-Socrates hingga Sigmund Freud dalam Dunia Sophie (Jostein Gaarder). Namun, bila dua novel tersebut memiliki cerita yang terkesan lincah dan manis, novel Perang ini cenderung tidak seperti itu.

Novel ini merasa cukup dengan berjalan secara linear. Minim kejutan untuk pembaca. Pembaca menikmati cerita yang terus berjalan maju. Dimulai dari kegelisahan Perang dengan “dunianya”, lalu bertemu tokoh-tokoh yang memberikannya influence, semakin gelisah, mulai menemukan “jati diri”, mencoba melawan, berkompromi, hingga berakhir dengan menemukan cinta (menikah dengan wanita yang ‘tepat’ dan mengadopsi anak).

Inilah mungkin sebab mengapa di sampul depan, judul ‘Perang’ ditulis dengan huruf berwarna pink. Di bagian akhir novel ini ada pesan yang cukup akrab di dunia subkultur, jatuh cintalah hari ini – dan mulai sebuah perubahan. Mengingatkan kita pada kegilaan Daniel Cohn-Bendit dan kawan-kawannya dalam Revolusi Perancis, Mei 1968. Di mana tembok-tembok kota Paris menjadi penuh dengan slogan-slogan dan grafiti sarat cinta yang subversif seperti, “Semakin sering aku membuat revolusi, semakin sering aku merasa seperti bercinta.”

Membaca novel ini di bulan Februari, paling tidak, mungkin akan membantu kita memikirkan ulang tentang cinta. Alih-alih hanya menjadi perayaan komoditas sistem yang kapitalistik, siapa tahu Valentine Day bisa menjadi “semenggelisahkan” May Day.

Ya, siapa tahu?!

Imam Hidayah Usman, Sindikat Kerja Taman Bunga Jatinangor.

31 August 2003

Kurt Cobain antara Cibiru-Jatinangor

:amm

Gus, aku ingin bersetubuh. Terlebih menyetubuhi perempuan-perempuan kawanku, juga perempuanmu yang kepadanya kau jatuh cinta setiap hari!

Aku menemuinya kemarin di toko buku miliknya. Jam bundar di sisi sebelah kanan tokonya mengejutkanku seketika, sudah jam tiga sore, sementara belum sekalipun aku mandi hari ini, belum sekalipun aku makan hari ini. Aku memasang senyumku yang kusangka tak pernah lebih tulus dari senyum miliknya. Ada dua orang sedang diskusi di sisi sebelah kiri. Ia terlihat sehat dengan sejadah digenggamannya. Barangkali dia baru sholat, ada bekas wudhu di wajahnya. Ia genggam tanganku, erat, hangat.

Dia bilang kabarnya baik. Aku katakan aku butuh recharge, kau khan psikiaterku! Aku mau ke belakang dulu. Dia mengantarkanku.

Tapi tak sampai dua menit aku di kamar mandinya, sesuatu yang membuatnya heran. Itulah, aku kehilangan semangat untuk apapun belakangan ini. Bahkan untuk buang air sekalipun. Ia menawarkan makanannya untukku. Ada nasi, biar kuisi lauk, katanya. Tak usah kataku. Aku tak ingin makan, kalau ingin biar aku sendiri nanti ke warung sebelah. Dia lalu menawarkanku setengah botol minuman mineral dengan merek yang baru saja aku lihat, minuman mineral yang dilengkapi teknologi resonansi untuk kesehatan, barangkali berisi doa-doa. Perlu doa-doa sebelum meminumnya, tanyaku. Ia hanya tertawa.

Kau tahu, telah tak kupercaya jiwa. Segala yang semburat, halus, tak nampak. Telah kuyakini hebatnya persetubuhan, dan bukan persejiwaan. Aku ingin bersetubuh, bukan bersejiwa.

Aku melihat buku-bukunya setelah dia menanyakan apa yang kubaca saat ini. Kujawab dengan sepatah kata percuma. Semua buku cuma merusak pikiran. You are what you read. Tak ada bedanya dengan You are what you buy. Aku tegaskan sekali lagi, gus, aku kehilangan semangat. Untuk semua hal. Semua yang kulakukan menjadi tak ada artinya lagi, menjadi sunyi dan hanya menyisakan kelelahan ajaib. Aku tak mampu lagi untuk membaca, apa lagi berpikir. Makanya aku datang menemuimu, psikiater. Dia makin nyata tertawa. Katanya, betapa ngirinya aku ke kamu, mam. Sial. Katanya, kamu itu malah me-recharge-ku. Lebih dari pemikiran manapun.

Bukunya banyak yang berdebu, dia bilang dia sedang malas. Sudah dua hari ini bahkan dia tidak mengepel tokonya. Ia lalu bercerita tentang kesia-siaan strategi pemasaran, juga keimpotentan agitasi-agitasi, propaganda-propaganda yang berniat menuntun mereka yang di luar untuk masuk melihat buku. Aku ingin mengalir, katanya, jika ingin kentut yah kentut, jika ingin buang air yah buang air. Fatal jika itu malah dihambat.

Di tanganku tergenggam catatan harian seorang gerilyawan. Dia bilang buku itu buatku. Dalam hatiku, aku tak ingin menjadi pembaca catatan harian seorang gerilyawan, aku ingin menjadi gerilyawan. Di Aceh atau di Meksiko, menjadi terorist atau zapatist. Terserah, aku ingin menjadi gerilyawan. Dan aku tidak hanya akan membuat setumpuk catatan harian, tapi akan kubuat juga catatan daftar dosa orang-orang yang tidak ikut menjadi gerilyawan, kubuat juga berratus-ratus surat cinta untuk seorang wanita yang menungguku di jendela kamarnya.

Dia menyodorkan beberapa judul buku kepadaku. Tentang sufisme, tentang metafisika, tentang alam kubur. Dia menawarkan diri untuk membacakan sebuah cerita di alam kubur. Ufh, maaf, gus, aku tak selera dengan penyiksaan kali ini. Dia beranjak dari kursinya, seseorang hendak menggunakan telepon.

Aku melempar mataku ke luar, ini sebuah jalan sumpek. Bis-bis besar berlomba mengeluarkan asap hitam knalpot, monoksida. Angkot-angkot hijau kecil berkejar-kejaran menghampiri calon penumpang. Pejalan kaki berbaur. Dua orang pengemis, sepertinya pasangan suami-istri, di seberang jalan bercanda. Aih, betapa mesranya, betapa bahagianya. Mereka berdua tertawa, berkejar-kejaran. Si lelaki dikejar si wanita. Si wanita mendapatkan si lelaki, lalu mereka kembali tertawa bahagia. Adakah yang lebih dermawan dari mereka berdua?

Kemudian Kurt Cobain lewat. Dia berada di kaos seorang pejalan kaki. Wajah itu, yang tertempel di kamar temanku yang sering kutumpangi, selalu menyimpan energi tersendiri rasanya. Wajah antara senyum dan segenggam amarah kemuakan. Rambut pirangnya gondrong, jatuh menimpa bahunya. Apa di pikirannya ketika ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya?


Aku pergi dari kursiku, aku makan dulu, kataku. Di warung sebelah tokonya, kubertemu dengan seorang kenalan lama. Apa kabar sapaku, entah siapa namanya, aku lupa. Aku memesan makanan, menu sederhana. (Dan kemudian, seperti biasanya apa-apa yang kupilih, selalu menyisakan penyesalan). Di tengah acara makan soreku (makan sore?), Kurt Cobain muncul lagi. Orang yang berbeda, kaos yang berbeda. Yeah, aku tahu, Cobain tidak sedang tersenyum. Wajah itu menyimpan energi amarah kemuakan. Cobain, hari ini kamu pahlawan saya! Kamu berani memutuskan sikap atas hidupmu…

Aku kembali ke tokonya, membakar rokok. Aku katakan kepadanya, mungkin begini akibatnya jika jauh dari tuhan. Dia tersenyum, sepertinya kau dekat sekali dengan tuhan, mam, katanya.

Jika saja aku bisa mengandaikan dunia ini sebuah bujur sangkar. Maka aku tahu betul di mana posisiku. Aku akan senantiasa megenggam setangkai mistar untuk kuukur tiap-tiap sisi bujur sangkar. Sedang dia, kawanku pemilik toko, akan selalu aku dapati membawa wadah, mungkin semacam buntelan paman janggut, ia akan memunguti semua kebajikan-kebajikan, warna-warna untuk kemudian ia tuangkan ke ruang tengah bujur sangkar. Ia selalu berbeda dariku. Entahlah, mungkin serupa. Caranya berpikir, caranya bertutur, semuanya kurasakan bukan berasal dari dunia yang kupahami. Yah, barangkali dia punya dunianya sendiri, dunia yang tak pernah aku mengerti, dan tak akan pernah.

Ayo, gus, beri aku motivasi, dorongan, atau apalah, aku kehilangan semangat. Kau paham khan? Dia malah bertanya, bagaimana tulisan-tulisanku? Bah, gus, menulis catatan harian pun aku telah kehilangan semangat. Ia kembali tersenyum. Mam, katanya, percayalah, semangat terus juga tak bagus. Santai sajalah.

Jam empat sore, sebuah janji lagi mesti kutepati. Enaknya naik apa, tanyaku. Kau, jawabnya, jalan saja dulu sampai sana. Kau pasti akan dapat sesuatu yang berharga, sesuatu yang akan kau bagi untukku kelak. Aku akan menemuimu, menanyakan apa yang kau dapatkan dan apa yang kau pikirkan setelahnya. Aku menurutinya dan berjalan hingga ke bundaran raja macet itu. Di tengah perjalanan, kembali ketemui Kurt Cobain. Di orang yang berbeda dan kaos yang berbeda. Wajahnya masih yang itu-itu juga, pirangnya masih yang itu-itu juga. Hanya kini Cobain berdasi. Pernahkah ia mengenakan dasi, pakaian seresmi itu? Sementara wajahnya mengumbar amarah kemuakan?

Aku putuskan naik angkot yang punya sedikit warna merah di sisinya. Beberapa polisi wanita ada di dalam angkot itu. Di sampingku, seorang berambut gondrong dan berpakaian rapi. Dan di pintu angkot, aha, miniposter Kurt Cobain. Aku memandangi wajahnya kali ini dengan serius. Bibirnya, mata sayunya, tulang pipinya. Semua yang memancarkan keberanian seorang gerilyawan.

Kupandangi ia hingga ternyata angkot telah sampai ke Jatinangor. Aku putuskan berhenti di sini saja. Di sebuah tempat foto kopi di mana malam harinya telah kusimpan sebuah buku untuk difoto kopi. Aku mengambil pesananku. AKU, karya Syumandjaya. Sebuah skenario film yang belum sekalipun difilmkan. Dibuatnya berdasarkan perjalanan hidup dan karya Chairil Anwar. Kumasukkan ke dalam tasku.

Sampai di rumah biru, aku putuskan untuk segera mandi. Berganti baju, menyisir rambut dan segera duduk di beranda. Memberi catatan di halaman pembuka, "Aku berkaca/ini muka penuh luka/punya siapa?" Chairil Anwar selalu menggairahkan. Lalu kuingat buku kumpulan karyanya milikku yang entah kupinjamkan kepada siapa dan hingga kini belum dikembalikan. Sepanjang sore aku membacanya. Malam hari, kepalaku dibayangi mata yang selalu merah milik Chairil, juga kisah cinta pertamanya yang ajaib. Tapi, lihatlah, seorang yang begitu angkuh itu ternyata mati hanya karena TBC dan sipilis yang tak kunjung sembuh.

Aku kemudian ingat sosok yang mirip Ida di hidupku sendiri. Sosok Ida yang kini menjauh sambil terus memandangku dan seolah berkata, kau begitu benar menginginkan aku? Sementara aku hanya terpaku di atas pasir putih, di antara teman-temanku. Dan bergumam, aku ingin merdeka darimu!

Akan aku ceritakan Kurt Cobain padamu kelak, gus.

Rumah Biru, Jatinangor 13 Agustus 2003

imam gumam dosa

Bagaimana kita akan menjadi fosil?

Pernahkah kamu membayangkan – di suatu sore yang cerah, dengan secangkir teh hangat, di beranda rumah – kamu akan menjadi fosil? Fosil, benar-benar fosil. Memfosil. Seperti apa yang ditemukan Eugene Dubois di tepi Bengawan Solo atau yang ditemukan Von Koeningswald di Sangiran.

Poerwadarminta dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia yang ia susun menerangkan fosil sebagai berikut: “Fosil adalah bekas binatang zaman dulu yang sudah jadi batu.” Begitulah kira-kira, memfosil berarti juga membatu.

Saya pernah membayangkannya ketika kebetulan saya membaca kutipan bagaimana seekor hewan danau akan menjadi fosil dari buku Biologi, The Network of Life.

Pertama kali hewan itu harus mati dan kemudian perlahan tenggelam di dasar danau. Begitu pula tentunya kita. Dan, tentu saja, kita tak harus benar-benar mati jika kita ingin menjadi fosil. Yang diperlukan bagi kita pertama kali adalah pikiran yang mati. Otak kita mungkin masih berputar, pikiran kita bisa jadi masih mengembara, tapi seperti apa dan bagaimana otak kita berputar dan ke arah mana pikiran kita mengembara, itu semua ditentukan bukan oleh diri kita sendiri. Jika Adam Smith dulu pernah mengenalkan kepada kita istilah “tangan tak terlihat” di ranah ekonomi, maka percayalah, tangan itu juga bergerak-gerak menentukan pola kerja pikiran kita.

Kemudian hewan danau itu akan terselimuti lumpur dalam jangka waktu ribuan tahun lamanya. Pikiran kita tak perlu memakan waktu hingga ribuan tahun. Beberapa saat saja. Perlahan kita akan berubah menjadi apa yang tak pernah terpikirkan oleh diri kita sendiri. Semua tindak-tanduk kita hanya berdasar pada pikiran-pikiran di luar kita. Dan kita, mau tidak mau, akan merasa perlu menurutinya. Hal-hal kecil saja. Jika kamu seorang remaja, kamu akan berpikir sebagaimana apa yang mereka perintahkan kepada seorang remaja. Tentang perlunya tampil trendy dengan mengenakan pakaian-pakaian yang mereka buat. Tentang perlunya menjaga penampilan agar erlihat “bersih”, “sehat”,”cantik”, “ganteng”, “menawan”, dengan menggunakan deodorant, bedak, parfume, sabun, odol, yang mereka produksi. Mereka juga akan menentukan ke mana kita seharusnya menggunakan waktu-waktu kita, ke mal-mal, bermain ice skating, nonton di bioskop 21, makan siang di McD. Juga perlahan mereka mulai mengidolakan seseorang atau hal-hal lainnya. Dan yang parah, mereka kemudian menukar hidupnya dengan cara hidup para idolanya itu. Semua ditiru habis-habisan. Cara berpakaiannya, cara bergaulnya, cara bicaranya, cara makannya. Diri sendiri diproyeksikan menjadi orang lain. Mereka akan terus mematikan pikiran kita dan memaksa kita untuk menuruti semua apa kata mereka. Dan jika kamu seorang perempuan, dan kamu mencoba-coba tidak menuruti kata mereka, kamu akan selalu merasa tidak sempurna menjadi seorang perempuan. Kamu akan merasa kalau kamu terlalu gemuk, kulit kamu tidak putih, dan rambut kamu tidak sempurna hanya karena kamu memilikinya tidak seperti para bintang iklan samphoo memilikinya.

Mereka mulai mematikan pikiran kita dan membangun pikiran mereka di diri kita. Kita mulai terbiasa meng-amini setiap perkataan mereka. Remaja adalah seperti apa yang mereka citrakan, perempuan adalah seperti apa yang mereka katakan, cantik adalah seperti apa yang mereka tetapkan, sehat adalah seperti apa yang mereka sebutkan. Dan diri kita adalah seperti apa yang mereka kehendaki. Hidup kita tercuri, pikiran kita mati.

Tapi, itu belum apa-apa. Karena sesungguhnya lumpur yang menyelimuti hewan di dasar lumpur tersebut berfungsi untuk melestarikan bangkai hewan tersebut dari kerusakan. Seperti itu juga kita akan dilestarikan. Dalam proses kita menjadi fosil (batu) kita dilestarikan selama mungkin untuk keuntungan mereka. Kita adalah diri, tetapi kita tak pernah memiliki diri kita sendiri. Mereka melestarikan diri-diri yang tak lagi menjadi diri kita. Dan mereka akan bilang, dengan begitu, “bikin hidup lebih hidup”. Meski sesungguhnya kita tak pernah hidup, kita hanya bertahan hidup. Bertahan hidup tentu berbeda dengan hidup. Kita tidak menjalani hidup kita seperti apa yang benar-benar kita inginkan, kita selamanya menjalani hidup seperti apa yang mereka inginkan. Tidakkah ini begitu mengerikan?

Hewan itu lalu perlahan berganti rupa. Karena banyaknya material yang terpendam hari ke hari, tubuh hewan itu hanya tersisa tulang dan gigi. Beberapa material akan berubah menjadi mineral yang berbeda. Proses Geologi akan menyebabkan keseluruhan wilayah tenggelam ke dasar laut dan membentuk batuan sedimen. Dan di suatu hari, hewan danau tersebut, yang kini telah menjadi fosil, akan ditemukan oleh para ilmuwan atau para pekerja konstruksi jalan.

Seperti itu kita akan berganti rupa tanpa kita bisa menghendakinya. Tapi, saya tahu, jika kita mau, kita bisa melawannya. Yang kita perlukan adalah menjadi diri sendiri. Berpikir dengan pikiran diri kita sendiri. Bertindak dengan tindakan kebebasan. Karena cuma kita pemilik diri kita. Semua omong kosong mereka, para pemilik pabrik-pabrik pakaian, parfume, kosmetik, - tangan-tangan tak terlihat – adalah kejahatan, karena lewat itu mereka akan mencuri hidup kita. Menukar diri kita dengan barang-barang yang mereka produksi. Jangan biarkan hidup kita tercuri!

Jika tidak, maka saksikanlah, kita akan menjadi fosil, menjadi batu. Memutar otak dengan cara yang mereka inginkan, dan mengembarakan pikiran ke tempat-tempat yang mereka anjurkan.

Kita tetap diri kita meski sepatu kita tidak bermerek Nike!

Bukan “Just Do It”, tapi “Do It Yourself!”

~imam gumam dosa~

30 August 2003

Apakah yang Tidak Kita Butuhkan dalam Hidup Ini?

“Awalnya kau tak tahu. Lalu ia mengubah ketaktahuanmu jadi pengetahuan. Menyihir pengetahuan jadi keinginan. Dari keinginan jadi kebutuhan, tak terelakkan. Iklan itu seperti setan.”

(Nukila Amal)


Sepanjang perjalanan hidup kita, rasanya kita selalu bertanya “Apakah kebutuhan kita?” Dan setelah itu, kita akan selalu berlomba-lomba memenuhi kebutuhan hidup kita itu, dengan cara apapun. Barangkali ini cuma kelakar, tapi ada yang mengatakan manusia dalam hidupnya tak akan pernah bisa menghindari tiga hal ini: kematian, pajak, dan penjualan.

Yang menyakitkan, kadang kita sendiri ada kalanya tidak benar-benar mengetahui apakah sesungguhnya kebutuhan kita itu. Sesungguhnya, kita hanya merasa tahu, menyangka kalau kita telah mengetahuinya. Tidakkah kita selalu bertanya, “Apakah kebutuhan kita?”

Tapi, apakah sesungguhnya “kebutuhan” itu?

Philip Kotler dan Gary Armstrong dalam buku mereka, Principles of Marketing, mengatakan kalau kebutuhan adalah “pernyataan dari rasa kehilangan”. Dan kebutuhan ini adalah konsep paling dasar dari apa yang mereka sebut “Pemasaran”. Kalau kamu masih berpikir pemasaran cuma berkisar soal penjualan dan periklanan maka – menurut mereka – kamu salah besar. Mereka merumuskan pemasaran dengan konsep yang terdengar manis, pemasaran ialah “suatu proses sosial dan manajerial yang membuat individu dan kelompok memperoleh apa yang mereka butuhkan serta inginkan lewat penciptaan dan pertukaran timbal balik produk dan nilai dengan orang lain.” Simpelnya, “memuaskan kebutuhan pelanggan!” Penjualan dan periklanan hanya puncak es dari apa yang mereka sebut pemasaran.

Mereka mencurinya dari kita!

Siapakah yang mengenal kamu dengan sangat dekat selain diri kamu sendiri? Ibu? Pacar? Teman kost? Bisa jadi. Tapi, mereka tak akan pernah tahu berapa banyak pakaian dalam yang kamu miliki. Dan Triumph mengetahui itu. Ibu kamu tak akan tahu berapa butir es batu yang kamu masukan di segelas coke kamu, dan Coca Cola mengetahuinya. John Koten, dalam artikelnya di Wall Street Journal edisi Maret 1985, “You Aren’t Paranoid if You Feel Someone Eyes You Constantly”, menggambarkan itu semua. Bagaimana cara perusahaan-perusahaan besar itu memata-matai hidup kita untuk kemudian menentukan apa kebutuhan kita. Mereka – para perusahaan itu – bahkan tahu berapa rata-rata orang membuang ingusnya dalam setahun, tahu berapa kali kita akan membeli bunga, minum aspirin, dan kaki manakah yang lebih dulu kita masukkan ketika kita akan memakai celana.

Dari sana mereka kemudian akan menentukan hidup kita selanjutnya. Mereka akan selalu mengajak kita bertanya “apa kebutuhan saya?” Dan mereka berjaya di atas puncak es pemasaran mereka: Penjualan dan Periklanan.

Setiap hari kita melihat iklan-iklan di mana-mana (“Iklan seperti setan!” –Cala Ibi, Nukila Amal). Di televisi maupun di media cetak. Jangan bilang kamu tidak memperhatikannya. Iklan-iklan itu kemudian mencoba menawarkan apa yang telah mereka curi dari hidup kita: kehidupan kita sendiri!

Hidup kita telah dicuri oleh mereka tanpa kita sadari. Karena cara kerja mereka memang “memuaskan” kita. Sebuah perusahaan alat bor tahu betul, yang kamu butuhkan bukanlah sebuah mata bor, tapi sebuah lubang. Tapi bagaimana dan seperti apa lubang itu, percayalah, itu semua kehendak mereka. Seperti seorang remaja yang tidak akan pernah merasa menjadi remaja jika tidak memakai deodorant, atau sepatunya bukan merek terkenal. Karena setiap hari, mereka mem-plot anggapan kita tentang remaja: rajin cuci muka, bersepatu nike, mengenakan t-shirt ocean pacific, berkulit putih, handphone yang siap dikalungkan di leher, sms, plaza senayan, ice skating, bioskop 21, clubing, pasta gigi rasa mint, parfume energik, mcdonald, dlsb. Jangan harap mereka akan mengakui kamu remaja kalau kamu mengingkari salah satu dari hal-hal tersebut. Bagi mereka, itu adalah kebutuhan dasar remaja: wangi, trendy, mal, hiburan, energik. Oh iya, kamu selamanya tak akan pernah disayangi pasangan kamu jika kamu tak memakai samphoo buatan mereka.

Iklan adalah senjata mereka, hadir seperti hantu yang akan menakut-nakuti kita, setiap hari. Setelah pikiran kita teracuni oleh iklan, maka akan ada “pernyataan dari rasa kehilangan” yang mereka namakan kebutuhan. Seperti hasrat para penikmat televisi kepada televisi layar datar, hasrat para anak sekolah dasar kepada handphone yang bisa kirim gambar, hasrat seorang wanita yang terobsesi memutihkan kulitnya demi mendapatkan kasih sayang pasangannya. Dengan iklan, mereka memaksakan semua gambaran ideal versi mereka. Mereka, dengan pasti, mencuri hidup kita, mencuri diri kita!

Tapi, apakah iklan benar-benar efektif melakukan itu semua?

Tentu saja. Dari penelitian yang dilakukan Dwyer (1998), seorang ilmuwan barat, dibuktikan bahwa TV mampu merebut 94% saluran masuknya pesan-pesan atau informasi ke dalam jiwa manusia lewat mata dan telinga. TV mampu membuat orang pada umumnya mengingat 50% dari apa yang mereka lihat dan dengar dalam sekali tayang, dan akan meningkat 85% setelah kita nonton lebih dari tiga jam. (KOMPAS, 5/2000). Lewat masivitas yang seperti itu, bukan saja otak kita yang tercuci, tapi hidup kita telah tercuri!

Apa yang salah dari itu semua?

Tak ada kesalahan yang lebih fatal dari kelengahan yang mengakibatkan tercurinya hidup kita. Dan tak ada yang lebih mengecewakan ketimbang tidak menjadi diri sendiri. Kita tak akan pernah menjadi diri sendiri ketika kita selalu memercayai apa kata mereka. Seorang remaja tak akan pernah merasa menjadi remaja ketika hanya memercayai segala konsep ideal mereka tentang remaja. Dan jika ada wanita yang mepercayai omong kosong mereka, wanita itu akan selalu dilanda kekalutan yang panjang karena selalu merasa kelebihan berat badan, kurang putih, dan tidak memiliki rambut seperti yang dimiliki bintang iklan shampo.

Itu artinya mereka telah benar-benar mencuri hidup kita hingga kita tak lagi bebas mengekspresikan diri kita. Kita adalah apa yang mereka mau. Kita adalah apa yang telah mereka gambarkan.

Bertanyalah, “Apa yang tidak kita butuhkan?”

Untuk menjaga agar diri kita tak tercuri, dan pikiran kita tak mudah dikelabui, adalah dengan cara benar-benar mengetahui apa sesungguhnya kebutuhan kita. Dan pertanyaan ini bisa jadi cara efektif untuk mengetahui apa sesungguhnya kebutuhan kita, “Apa yang tidak saya butuhkan?” Kita terbiasa berpikir kepada hal-hal yang belum kita miliki jika kita bertanya “apa kebutuhan saya?” Sebaliknya, kita akan biasa berpikir kepada hal-hal yang telah kita miliki jika kita bertanya “apa yang tidak saya butuhkan?” Kita akan selalu menggunakan parameter-parameter orang lain jika kita bertanya, “apa yang saya butuhkan?” Sebaliknya, kita akan menggunakan parameter diri kita sendiri jika kita bertanya, “Apa yang tidak saya butuhkan?”

Karena banyak sekali ternyata yang tidak kita butuhkan dalam hidup ini.

Bertanyalah, “Apa yang tidak kita butuhkan?” Lagi, lagi dan lagi. Dan kita akan menemukan daftar kebutuhan kita yang teramat singkat, kebutuhan yang benar-benar kita butuhkan. Selebihnya, benar-benar tidak kita butuhkan!

~imam gumam dosa~

rahasia buta
:donny

pagi begitu buta ketika ia terbangun dan lalu tak mendapatkan bayangan apapun di cermin kamarnya sementara ia duduk manis di bangku toilet mahalnya - ia merasa bahwa cermin bahkan tak mau menerimanya - cermin itu kosong - hingga kemudian terdengar pintu diketuk tiga kali - tok tok tok - hai kekosongan!

itukah suaramu?

Dari dalam kamar (di balik jendela)

Sebuah puisi…kupersembahkan untuk teman2 di taman bunga =)

DN

----------------

Izinkan kuberlari dan duduk di sana,

di jalanan, Tuan

tempat hewan dan tumbuhan

menemukan persoalan-persoalan

meninggalkan jawaban

mencari pertanyaan





Dimana kau Kawan?

disini teman..

Apa yang Kau Kerjakan?

mendengar mereka berdendang

lagu kebersamaan partitur Iwan Fals

yang selalu fasih terdengar

di pinggir jalan...





Di sana, Tuan

di pinggir jalan...





Esok, masih dari dalam kamar,

mereka juga bernyanyi cinta

senarai obrol dan geli





Lalu..sekarang

apa yang kulakukan

tak lagi penting Kawan

senyum sudah hadir…



(DN, Sentul, 25-28 Juni 2003, tumben)

Taman Bunga