31 August 2003

Kurt Cobain antara Cibiru-Jatinangor

:amm

Gus, aku ingin bersetubuh. Terlebih menyetubuhi perempuan-perempuan kawanku, juga perempuanmu yang kepadanya kau jatuh cinta setiap hari!

Aku menemuinya kemarin di toko buku miliknya. Jam bundar di sisi sebelah kanan tokonya mengejutkanku seketika, sudah jam tiga sore, sementara belum sekalipun aku mandi hari ini, belum sekalipun aku makan hari ini. Aku memasang senyumku yang kusangka tak pernah lebih tulus dari senyum miliknya. Ada dua orang sedang diskusi di sisi sebelah kiri. Ia terlihat sehat dengan sejadah digenggamannya. Barangkali dia baru sholat, ada bekas wudhu di wajahnya. Ia genggam tanganku, erat, hangat.

Dia bilang kabarnya baik. Aku katakan aku butuh recharge, kau khan psikiaterku! Aku mau ke belakang dulu. Dia mengantarkanku.

Tapi tak sampai dua menit aku di kamar mandinya, sesuatu yang membuatnya heran. Itulah, aku kehilangan semangat untuk apapun belakangan ini. Bahkan untuk buang air sekalipun. Ia menawarkan makanannya untukku. Ada nasi, biar kuisi lauk, katanya. Tak usah kataku. Aku tak ingin makan, kalau ingin biar aku sendiri nanti ke warung sebelah. Dia lalu menawarkanku setengah botol minuman mineral dengan merek yang baru saja aku lihat, minuman mineral yang dilengkapi teknologi resonansi untuk kesehatan, barangkali berisi doa-doa. Perlu doa-doa sebelum meminumnya, tanyaku. Ia hanya tertawa.

Kau tahu, telah tak kupercaya jiwa. Segala yang semburat, halus, tak nampak. Telah kuyakini hebatnya persetubuhan, dan bukan persejiwaan. Aku ingin bersetubuh, bukan bersejiwa.

Aku melihat buku-bukunya setelah dia menanyakan apa yang kubaca saat ini. Kujawab dengan sepatah kata percuma. Semua buku cuma merusak pikiran. You are what you read. Tak ada bedanya dengan You are what you buy. Aku tegaskan sekali lagi, gus, aku kehilangan semangat. Untuk semua hal. Semua yang kulakukan menjadi tak ada artinya lagi, menjadi sunyi dan hanya menyisakan kelelahan ajaib. Aku tak mampu lagi untuk membaca, apa lagi berpikir. Makanya aku datang menemuimu, psikiater. Dia makin nyata tertawa. Katanya, betapa ngirinya aku ke kamu, mam. Sial. Katanya, kamu itu malah me-recharge-ku. Lebih dari pemikiran manapun.

Bukunya banyak yang berdebu, dia bilang dia sedang malas. Sudah dua hari ini bahkan dia tidak mengepel tokonya. Ia lalu bercerita tentang kesia-siaan strategi pemasaran, juga keimpotentan agitasi-agitasi, propaganda-propaganda yang berniat menuntun mereka yang di luar untuk masuk melihat buku. Aku ingin mengalir, katanya, jika ingin kentut yah kentut, jika ingin buang air yah buang air. Fatal jika itu malah dihambat.

Di tanganku tergenggam catatan harian seorang gerilyawan. Dia bilang buku itu buatku. Dalam hatiku, aku tak ingin menjadi pembaca catatan harian seorang gerilyawan, aku ingin menjadi gerilyawan. Di Aceh atau di Meksiko, menjadi terorist atau zapatist. Terserah, aku ingin menjadi gerilyawan. Dan aku tidak hanya akan membuat setumpuk catatan harian, tapi akan kubuat juga catatan daftar dosa orang-orang yang tidak ikut menjadi gerilyawan, kubuat juga berratus-ratus surat cinta untuk seorang wanita yang menungguku di jendela kamarnya.

Dia menyodorkan beberapa judul buku kepadaku. Tentang sufisme, tentang metafisika, tentang alam kubur. Dia menawarkan diri untuk membacakan sebuah cerita di alam kubur. Ufh, maaf, gus, aku tak selera dengan penyiksaan kali ini. Dia beranjak dari kursinya, seseorang hendak menggunakan telepon.

Aku melempar mataku ke luar, ini sebuah jalan sumpek. Bis-bis besar berlomba mengeluarkan asap hitam knalpot, monoksida. Angkot-angkot hijau kecil berkejar-kejaran menghampiri calon penumpang. Pejalan kaki berbaur. Dua orang pengemis, sepertinya pasangan suami-istri, di seberang jalan bercanda. Aih, betapa mesranya, betapa bahagianya. Mereka berdua tertawa, berkejar-kejaran. Si lelaki dikejar si wanita. Si wanita mendapatkan si lelaki, lalu mereka kembali tertawa bahagia. Adakah yang lebih dermawan dari mereka berdua?

Kemudian Kurt Cobain lewat. Dia berada di kaos seorang pejalan kaki. Wajah itu, yang tertempel di kamar temanku yang sering kutumpangi, selalu menyimpan energi tersendiri rasanya. Wajah antara senyum dan segenggam amarah kemuakan. Rambut pirangnya gondrong, jatuh menimpa bahunya. Apa di pikirannya ketika ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya?


Aku pergi dari kursiku, aku makan dulu, kataku. Di warung sebelah tokonya, kubertemu dengan seorang kenalan lama. Apa kabar sapaku, entah siapa namanya, aku lupa. Aku memesan makanan, menu sederhana. (Dan kemudian, seperti biasanya apa-apa yang kupilih, selalu menyisakan penyesalan). Di tengah acara makan soreku (makan sore?), Kurt Cobain muncul lagi. Orang yang berbeda, kaos yang berbeda. Yeah, aku tahu, Cobain tidak sedang tersenyum. Wajah itu menyimpan energi amarah kemuakan. Cobain, hari ini kamu pahlawan saya! Kamu berani memutuskan sikap atas hidupmu…

Aku kembali ke tokonya, membakar rokok. Aku katakan kepadanya, mungkin begini akibatnya jika jauh dari tuhan. Dia tersenyum, sepertinya kau dekat sekali dengan tuhan, mam, katanya.

Jika saja aku bisa mengandaikan dunia ini sebuah bujur sangkar. Maka aku tahu betul di mana posisiku. Aku akan senantiasa megenggam setangkai mistar untuk kuukur tiap-tiap sisi bujur sangkar. Sedang dia, kawanku pemilik toko, akan selalu aku dapati membawa wadah, mungkin semacam buntelan paman janggut, ia akan memunguti semua kebajikan-kebajikan, warna-warna untuk kemudian ia tuangkan ke ruang tengah bujur sangkar. Ia selalu berbeda dariku. Entahlah, mungkin serupa. Caranya berpikir, caranya bertutur, semuanya kurasakan bukan berasal dari dunia yang kupahami. Yah, barangkali dia punya dunianya sendiri, dunia yang tak pernah aku mengerti, dan tak akan pernah.

Ayo, gus, beri aku motivasi, dorongan, atau apalah, aku kehilangan semangat. Kau paham khan? Dia malah bertanya, bagaimana tulisan-tulisanku? Bah, gus, menulis catatan harian pun aku telah kehilangan semangat. Ia kembali tersenyum. Mam, katanya, percayalah, semangat terus juga tak bagus. Santai sajalah.

Jam empat sore, sebuah janji lagi mesti kutepati. Enaknya naik apa, tanyaku. Kau, jawabnya, jalan saja dulu sampai sana. Kau pasti akan dapat sesuatu yang berharga, sesuatu yang akan kau bagi untukku kelak. Aku akan menemuimu, menanyakan apa yang kau dapatkan dan apa yang kau pikirkan setelahnya. Aku menurutinya dan berjalan hingga ke bundaran raja macet itu. Di tengah perjalanan, kembali ketemui Kurt Cobain. Di orang yang berbeda dan kaos yang berbeda. Wajahnya masih yang itu-itu juga, pirangnya masih yang itu-itu juga. Hanya kini Cobain berdasi. Pernahkah ia mengenakan dasi, pakaian seresmi itu? Sementara wajahnya mengumbar amarah kemuakan?

Aku putuskan naik angkot yang punya sedikit warna merah di sisinya. Beberapa polisi wanita ada di dalam angkot itu. Di sampingku, seorang berambut gondrong dan berpakaian rapi. Dan di pintu angkot, aha, miniposter Kurt Cobain. Aku memandangi wajahnya kali ini dengan serius. Bibirnya, mata sayunya, tulang pipinya. Semua yang memancarkan keberanian seorang gerilyawan.

Kupandangi ia hingga ternyata angkot telah sampai ke Jatinangor. Aku putuskan berhenti di sini saja. Di sebuah tempat foto kopi di mana malam harinya telah kusimpan sebuah buku untuk difoto kopi. Aku mengambil pesananku. AKU, karya Syumandjaya. Sebuah skenario film yang belum sekalipun difilmkan. Dibuatnya berdasarkan perjalanan hidup dan karya Chairil Anwar. Kumasukkan ke dalam tasku.

Sampai di rumah biru, aku putuskan untuk segera mandi. Berganti baju, menyisir rambut dan segera duduk di beranda. Memberi catatan di halaman pembuka, "Aku berkaca/ini muka penuh luka/punya siapa?" Chairil Anwar selalu menggairahkan. Lalu kuingat buku kumpulan karyanya milikku yang entah kupinjamkan kepada siapa dan hingga kini belum dikembalikan. Sepanjang sore aku membacanya. Malam hari, kepalaku dibayangi mata yang selalu merah milik Chairil, juga kisah cinta pertamanya yang ajaib. Tapi, lihatlah, seorang yang begitu angkuh itu ternyata mati hanya karena TBC dan sipilis yang tak kunjung sembuh.

Aku kemudian ingat sosok yang mirip Ida di hidupku sendiri. Sosok Ida yang kini menjauh sambil terus memandangku dan seolah berkata, kau begitu benar menginginkan aku? Sementara aku hanya terpaku di atas pasir putih, di antara teman-temanku. Dan bergumam, aku ingin merdeka darimu!

Akan aku ceritakan Kurt Cobain padamu kelak, gus.

Rumah Biru, Jatinangor 13 Agustus 2003

imam gumam dosa

Bagaimana kita akan menjadi fosil?

Pernahkah kamu membayangkan – di suatu sore yang cerah, dengan secangkir teh hangat, di beranda rumah – kamu akan menjadi fosil? Fosil, benar-benar fosil. Memfosil. Seperti apa yang ditemukan Eugene Dubois di tepi Bengawan Solo atau yang ditemukan Von Koeningswald di Sangiran.

Poerwadarminta dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia yang ia susun menerangkan fosil sebagai berikut: “Fosil adalah bekas binatang zaman dulu yang sudah jadi batu.” Begitulah kira-kira, memfosil berarti juga membatu.

Saya pernah membayangkannya ketika kebetulan saya membaca kutipan bagaimana seekor hewan danau akan menjadi fosil dari buku Biologi, The Network of Life.

Pertama kali hewan itu harus mati dan kemudian perlahan tenggelam di dasar danau. Begitu pula tentunya kita. Dan, tentu saja, kita tak harus benar-benar mati jika kita ingin menjadi fosil. Yang diperlukan bagi kita pertama kali adalah pikiran yang mati. Otak kita mungkin masih berputar, pikiran kita bisa jadi masih mengembara, tapi seperti apa dan bagaimana otak kita berputar dan ke arah mana pikiran kita mengembara, itu semua ditentukan bukan oleh diri kita sendiri. Jika Adam Smith dulu pernah mengenalkan kepada kita istilah “tangan tak terlihat” di ranah ekonomi, maka percayalah, tangan itu juga bergerak-gerak menentukan pola kerja pikiran kita.

Kemudian hewan danau itu akan terselimuti lumpur dalam jangka waktu ribuan tahun lamanya. Pikiran kita tak perlu memakan waktu hingga ribuan tahun. Beberapa saat saja. Perlahan kita akan berubah menjadi apa yang tak pernah terpikirkan oleh diri kita sendiri. Semua tindak-tanduk kita hanya berdasar pada pikiran-pikiran di luar kita. Dan kita, mau tidak mau, akan merasa perlu menurutinya. Hal-hal kecil saja. Jika kamu seorang remaja, kamu akan berpikir sebagaimana apa yang mereka perintahkan kepada seorang remaja. Tentang perlunya tampil trendy dengan mengenakan pakaian-pakaian yang mereka buat. Tentang perlunya menjaga penampilan agar erlihat “bersih”, “sehat”,”cantik”, “ganteng”, “menawan”, dengan menggunakan deodorant, bedak, parfume, sabun, odol, yang mereka produksi. Mereka juga akan menentukan ke mana kita seharusnya menggunakan waktu-waktu kita, ke mal-mal, bermain ice skating, nonton di bioskop 21, makan siang di McD. Juga perlahan mereka mulai mengidolakan seseorang atau hal-hal lainnya. Dan yang parah, mereka kemudian menukar hidupnya dengan cara hidup para idolanya itu. Semua ditiru habis-habisan. Cara berpakaiannya, cara bergaulnya, cara bicaranya, cara makannya. Diri sendiri diproyeksikan menjadi orang lain. Mereka akan terus mematikan pikiran kita dan memaksa kita untuk menuruti semua apa kata mereka. Dan jika kamu seorang perempuan, dan kamu mencoba-coba tidak menuruti kata mereka, kamu akan selalu merasa tidak sempurna menjadi seorang perempuan. Kamu akan merasa kalau kamu terlalu gemuk, kulit kamu tidak putih, dan rambut kamu tidak sempurna hanya karena kamu memilikinya tidak seperti para bintang iklan samphoo memilikinya.

Mereka mulai mematikan pikiran kita dan membangun pikiran mereka di diri kita. Kita mulai terbiasa meng-amini setiap perkataan mereka. Remaja adalah seperti apa yang mereka citrakan, perempuan adalah seperti apa yang mereka katakan, cantik adalah seperti apa yang mereka tetapkan, sehat adalah seperti apa yang mereka sebutkan. Dan diri kita adalah seperti apa yang mereka kehendaki. Hidup kita tercuri, pikiran kita mati.

Tapi, itu belum apa-apa. Karena sesungguhnya lumpur yang menyelimuti hewan di dasar lumpur tersebut berfungsi untuk melestarikan bangkai hewan tersebut dari kerusakan. Seperti itu juga kita akan dilestarikan. Dalam proses kita menjadi fosil (batu) kita dilestarikan selama mungkin untuk keuntungan mereka. Kita adalah diri, tetapi kita tak pernah memiliki diri kita sendiri. Mereka melestarikan diri-diri yang tak lagi menjadi diri kita. Dan mereka akan bilang, dengan begitu, “bikin hidup lebih hidup”. Meski sesungguhnya kita tak pernah hidup, kita hanya bertahan hidup. Bertahan hidup tentu berbeda dengan hidup. Kita tidak menjalani hidup kita seperti apa yang benar-benar kita inginkan, kita selamanya menjalani hidup seperti apa yang mereka inginkan. Tidakkah ini begitu mengerikan?

Hewan itu lalu perlahan berganti rupa. Karena banyaknya material yang terpendam hari ke hari, tubuh hewan itu hanya tersisa tulang dan gigi. Beberapa material akan berubah menjadi mineral yang berbeda. Proses Geologi akan menyebabkan keseluruhan wilayah tenggelam ke dasar laut dan membentuk batuan sedimen. Dan di suatu hari, hewan danau tersebut, yang kini telah menjadi fosil, akan ditemukan oleh para ilmuwan atau para pekerja konstruksi jalan.

Seperti itu kita akan berganti rupa tanpa kita bisa menghendakinya. Tapi, saya tahu, jika kita mau, kita bisa melawannya. Yang kita perlukan adalah menjadi diri sendiri. Berpikir dengan pikiran diri kita sendiri. Bertindak dengan tindakan kebebasan. Karena cuma kita pemilik diri kita. Semua omong kosong mereka, para pemilik pabrik-pabrik pakaian, parfume, kosmetik, - tangan-tangan tak terlihat – adalah kejahatan, karena lewat itu mereka akan mencuri hidup kita. Menukar diri kita dengan barang-barang yang mereka produksi. Jangan biarkan hidup kita tercuri!

Jika tidak, maka saksikanlah, kita akan menjadi fosil, menjadi batu. Memutar otak dengan cara yang mereka inginkan, dan mengembarakan pikiran ke tempat-tempat yang mereka anjurkan.

Kita tetap diri kita meski sepatu kita tidak bermerek Nike!

Bukan “Just Do It”, tapi “Do It Yourself!”

~imam gumam dosa~

30 August 2003

Apakah yang Tidak Kita Butuhkan dalam Hidup Ini?

“Awalnya kau tak tahu. Lalu ia mengubah ketaktahuanmu jadi pengetahuan. Menyihir pengetahuan jadi keinginan. Dari keinginan jadi kebutuhan, tak terelakkan. Iklan itu seperti setan.”

(Nukila Amal)


Sepanjang perjalanan hidup kita, rasanya kita selalu bertanya “Apakah kebutuhan kita?” Dan setelah itu, kita akan selalu berlomba-lomba memenuhi kebutuhan hidup kita itu, dengan cara apapun. Barangkali ini cuma kelakar, tapi ada yang mengatakan manusia dalam hidupnya tak akan pernah bisa menghindari tiga hal ini: kematian, pajak, dan penjualan.

Yang menyakitkan, kadang kita sendiri ada kalanya tidak benar-benar mengetahui apakah sesungguhnya kebutuhan kita itu. Sesungguhnya, kita hanya merasa tahu, menyangka kalau kita telah mengetahuinya. Tidakkah kita selalu bertanya, “Apakah kebutuhan kita?”

Tapi, apakah sesungguhnya “kebutuhan” itu?

Philip Kotler dan Gary Armstrong dalam buku mereka, Principles of Marketing, mengatakan kalau kebutuhan adalah “pernyataan dari rasa kehilangan”. Dan kebutuhan ini adalah konsep paling dasar dari apa yang mereka sebut “Pemasaran”. Kalau kamu masih berpikir pemasaran cuma berkisar soal penjualan dan periklanan maka – menurut mereka – kamu salah besar. Mereka merumuskan pemasaran dengan konsep yang terdengar manis, pemasaran ialah “suatu proses sosial dan manajerial yang membuat individu dan kelompok memperoleh apa yang mereka butuhkan serta inginkan lewat penciptaan dan pertukaran timbal balik produk dan nilai dengan orang lain.” Simpelnya, “memuaskan kebutuhan pelanggan!” Penjualan dan periklanan hanya puncak es dari apa yang mereka sebut pemasaran.

Mereka mencurinya dari kita!

Siapakah yang mengenal kamu dengan sangat dekat selain diri kamu sendiri? Ibu? Pacar? Teman kost? Bisa jadi. Tapi, mereka tak akan pernah tahu berapa banyak pakaian dalam yang kamu miliki. Dan Triumph mengetahui itu. Ibu kamu tak akan tahu berapa butir es batu yang kamu masukan di segelas coke kamu, dan Coca Cola mengetahuinya. John Koten, dalam artikelnya di Wall Street Journal edisi Maret 1985, “You Aren’t Paranoid if You Feel Someone Eyes You Constantly”, menggambarkan itu semua. Bagaimana cara perusahaan-perusahaan besar itu memata-matai hidup kita untuk kemudian menentukan apa kebutuhan kita. Mereka – para perusahaan itu – bahkan tahu berapa rata-rata orang membuang ingusnya dalam setahun, tahu berapa kali kita akan membeli bunga, minum aspirin, dan kaki manakah yang lebih dulu kita masukkan ketika kita akan memakai celana.

Dari sana mereka kemudian akan menentukan hidup kita selanjutnya. Mereka akan selalu mengajak kita bertanya “apa kebutuhan saya?” Dan mereka berjaya di atas puncak es pemasaran mereka: Penjualan dan Periklanan.

Setiap hari kita melihat iklan-iklan di mana-mana (“Iklan seperti setan!” –Cala Ibi, Nukila Amal). Di televisi maupun di media cetak. Jangan bilang kamu tidak memperhatikannya. Iklan-iklan itu kemudian mencoba menawarkan apa yang telah mereka curi dari hidup kita: kehidupan kita sendiri!

Hidup kita telah dicuri oleh mereka tanpa kita sadari. Karena cara kerja mereka memang “memuaskan” kita. Sebuah perusahaan alat bor tahu betul, yang kamu butuhkan bukanlah sebuah mata bor, tapi sebuah lubang. Tapi bagaimana dan seperti apa lubang itu, percayalah, itu semua kehendak mereka. Seperti seorang remaja yang tidak akan pernah merasa menjadi remaja jika tidak memakai deodorant, atau sepatunya bukan merek terkenal. Karena setiap hari, mereka mem-plot anggapan kita tentang remaja: rajin cuci muka, bersepatu nike, mengenakan t-shirt ocean pacific, berkulit putih, handphone yang siap dikalungkan di leher, sms, plaza senayan, ice skating, bioskop 21, clubing, pasta gigi rasa mint, parfume energik, mcdonald, dlsb. Jangan harap mereka akan mengakui kamu remaja kalau kamu mengingkari salah satu dari hal-hal tersebut. Bagi mereka, itu adalah kebutuhan dasar remaja: wangi, trendy, mal, hiburan, energik. Oh iya, kamu selamanya tak akan pernah disayangi pasangan kamu jika kamu tak memakai samphoo buatan mereka.

Iklan adalah senjata mereka, hadir seperti hantu yang akan menakut-nakuti kita, setiap hari. Setelah pikiran kita teracuni oleh iklan, maka akan ada “pernyataan dari rasa kehilangan” yang mereka namakan kebutuhan. Seperti hasrat para penikmat televisi kepada televisi layar datar, hasrat para anak sekolah dasar kepada handphone yang bisa kirim gambar, hasrat seorang wanita yang terobsesi memutihkan kulitnya demi mendapatkan kasih sayang pasangannya. Dengan iklan, mereka memaksakan semua gambaran ideal versi mereka. Mereka, dengan pasti, mencuri hidup kita, mencuri diri kita!

Tapi, apakah iklan benar-benar efektif melakukan itu semua?

Tentu saja. Dari penelitian yang dilakukan Dwyer (1998), seorang ilmuwan barat, dibuktikan bahwa TV mampu merebut 94% saluran masuknya pesan-pesan atau informasi ke dalam jiwa manusia lewat mata dan telinga. TV mampu membuat orang pada umumnya mengingat 50% dari apa yang mereka lihat dan dengar dalam sekali tayang, dan akan meningkat 85% setelah kita nonton lebih dari tiga jam. (KOMPAS, 5/2000). Lewat masivitas yang seperti itu, bukan saja otak kita yang tercuci, tapi hidup kita telah tercuri!

Apa yang salah dari itu semua?

Tak ada kesalahan yang lebih fatal dari kelengahan yang mengakibatkan tercurinya hidup kita. Dan tak ada yang lebih mengecewakan ketimbang tidak menjadi diri sendiri. Kita tak akan pernah menjadi diri sendiri ketika kita selalu memercayai apa kata mereka. Seorang remaja tak akan pernah merasa menjadi remaja ketika hanya memercayai segala konsep ideal mereka tentang remaja. Dan jika ada wanita yang mepercayai omong kosong mereka, wanita itu akan selalu dilanda kekalutan yang panjang karena selalu merasa kelebihan berat badan, kurang putih, dan tidak memiliki rambut seperti yang dimiliki bintang iklan shampo.

Itu artinya mereka telah benar-benar mencuri hidup kita hingga kita tak lagi bebas mengekspresikan diri kita. Kita adalah apa yang mereka mau. Kita adalah apa yang telah mereka gambarkan.

Bertanyalah, “Apa yang tidak kita butuhkan?”

Untuk menjaga agar diri kita tak tercuri, dan pikiran kita tak mudah dikelabui, adalah dengan cara benar-benar mengetahui apa sesungguhnya kebutuhan kita. Dan pertanyaan ini bisa jadi cara efektif untuk mengetahui apa sesungguhnya kebutuhan kita, “Apa yang tidak saya butuhkan?” Kita terbiasa berpikir kepada hal-hal yang belum kita miliki jika kita bertanya “apa kebutuhan saya?” Sebaliknya, kita akan biasa berpikir kepada hal-hal yang telah kita miliki jika kita bertanya “apa yang tidak saya butuhkan?” Kita akan selalu menggunakan parameter-parameter orang lain jika kita bertanya, “apa yang saya butuhkan?” Sebaliknya, kita akan menggunakan parameter diri kita sendiri jika kita bertanya, “Apa yang tidak saya butuhkan?”

Karena banyak sekali ternyata yang tidak kita butuhkan dalam hidup ini.

Bertanyalah, “Apa yang tidak kita butuhkan?” Lagi, lagi dan lagi. Dan kita akan menemukan daftar kebutuhan kita yang teramat singkat, kebutuhan yang benar-benar kita butuhkan. Selebihnya, benar-benar tidak kita butuhkan!

~imam gumam dosa~

rahasia buta
:donny

pagi begitu buta ketika ia terbangun dan lalu tak mendapatkan bayangan apapun di cermin kamarnya sementara ia duduk manis di bangku toilet mahalnya - ia merasa bahwa cermin bahkan tak mau menerimanya - cermin itu kosong - hingga kemudian terdengar pintu diketuk tiga kali - tok tok tok - hai kekosongan!

itukah suaramu?

Dari dalam kamar (di balik jendela)

Sebuah puisi…kupersembahkan untuk teman2 di taman bunga =)

DN

----------------

Izinkan kuberlari dan duduk di sana,

di jalanan, Tuan

tempat hewan dan tumbuhan

menemukan persoalan-persoalan

meninggalkan jawaban

mencari pertanyaan





Dimana kau Kawan?

disini teman..

Apa yang Kau Kerjakan?

mendengar mereka berdendang

lagu kebersamaan partitur Iwan Fals

yang selalu fasih terdengar

di pinggir jalan...





Di sana, Tuan

di pinggir jalan...





Esok, masih dari dalam kamar,

mereka juga bernyanyi cinta

senarai obrol dan geli





Lalu..sekarang

apa yang kulakukan

tak lagi penting Kawan

senyum sudah hadir…



(DN, Sentul, 25-28 Juni 2003, tumben)

Taman Bunga